Selasa, 01 Maret 2016

OPTIMIS! MENYONGSONG PERTUMBUHAN EKONOMI DARI BONUS DEMOGRAFI INDONESIA TAHUN 2030

Filled under:

OPTIMIS! MENYONGSONG PERTUMBUHAN EKONOMI
DARI BONUS DEMOGRAFI INDONESIA TAHUN 2030
Penyusun Artikel:
Ragil Waseza. 2016. Optimis! Menyongsong Pertumbuhan Ekonomi dari Bonus Demografi Indonesia Tahun 2030. Artikel Kependudukan, Nominasi Lomba Blog Kependudukan Tahun 2013 dari Provinsi Jawa Tengah.

Akhir-Akhir ini perbincangan mengenai bonus demografi sering dilakukan oleh para akademisi dan birokrat level nasional yang mengurusi masalah kependudukan. Seperti kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) hampir dalam setiap pertemuan dengan berbagai elemen masyarakat mengingatkan pentingnya kita menyiapkan diri menyongsong hadirnya bonus demografi yang sudah didepan mata. Mengutip pernyataan Surya Chandra Surapaty, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), bonus demografi diperkirakan bakal diraih Indonesia pada 2025-2030 (Rosana, 2015: http://www.antarasumsel.com/berita/297301/bkkbn-bonus-demografi-diraih-indonesia-2025-2030).
Bonus Demografi merupakan suatu kondisi yang dialami oleh sebuah negara dimana struktur penduduk usia produktif (15–64 tahun) jauh lebih banyak dibandingkan dengan penduduk usia nun produktif yaitu penduduk usia muda (0–14 tahun) dan penduduk usia lanjut (>65 tahun). Dalam kurun waktu tersbut, rasio Ketergantungan (dependency ratio) akan mencapai titik terendah dalam sejarah Indonesia. Kondisi ini memunculkan suatu kesempatan (the window of opportunity) yang dapat dimanfaatkan untuk menaikkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan produktifitas dan pertumbuhan ekonomi.
Bonus demografi adalah kesempatan untuk menjadikan Indonesia lebih sejahtera karena pada masa itu jumlah penduduk usia produktif mencapai 70 persen dari komposisi penduduk. Surya mengemukakan, pada tahun 2030 itu, jumlah penduduk usia produktif (15 - 64 tahun) diperkirakan jauh lebih banyak dibandingkan dengan warga tidak produktif. Pada 2015, Indonesia sejatinya telah memasuki gerbang bonus demografi karena komposisi penduduk saat ini diketahui jumlah remaja mencapai 64 juta jiwa, jumlah balita 24 juta jiwa, dan jumlah lansia 18-20 juta jiwa. Namun, puncak bonus demografi ini diperkirakan terjadi pada 2028-2031 yakni saat 100 orang warga usia produktif menanggung 46,9 penduduk tidak produktif.
Menyimak pernyataan Presiden Jokowi dalam pidatonya, Bonus demografi ibarat pedang bemata dua. Satu sisi adalah berkah, jika kita berhasil mengambil manfaatnya. Satu sisi lain adalah bencana apabila kualitas manusia Indonesia tidak disiapkan dengan baik. Menurut Presiden Jokowi, melimpahnya jumlah penduduk usia produktif itu merupakan modal besar untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi di Indonesia (Arikunto, 2015: http://www.tribunnews.com/nasional/2015/08/01/bonus-demografi-harus-dikelola-dengan-tepat-agar-tidak-jadi-bencana).
Secara historis, tanda-tanda munculnya fenomena bonus demografi di Indonesia dimulai pada awal 1990-an melalui keberhasilan program Keluarga Berencana (KB). Program KB ini dilakukan atas dasar logika developmentalisme dengan asumsi bahwa ketika populasi penduduk mengalami kelebihan kapasitas (overload), maka itu akan berimplikasi simetris dengan kemiskinan. Hal ini berbeda dengan konsep keluarga berencana yang dilakukan di negara maju yang lebih berorientasi pada pengendalian angka fertilitas. Kebijakan keluarga berencana di negara berkembang diarahkan pada perhitungan ekonomi yang diarahkan dalam rangka memajukan masyarakat agraris yang masih terbelakang. Oleh karena itulah, dalam rangka memperbaiki kualitas hidup masyarakat sekaligus pula mengurangi kemiskinan sehingga beban ekonomi negara berkurang, pertumbuhan penduduk perlu dikekang. KB dimplementasikan ke tingkat desa melalui program posyandu, imunisasi, dan vasektomi dengan memanfaatkan saluran korporatisme negara, seperti PKK, HKTI, maupun Kelompencapir (Jati, 2015: 3).

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2016

Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio) adalah perbandingan antara jumlah penduduk berumur 0-14 tahun, ditambah dengan jumlah penduduk 65 tahun keatas dibandingkan dengan jumlah penduduk usia 15-64 tahun. Dependency ratio merupakan salah satu indikator demografi yang penting. Semakin tingginya persentase dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Sedangkan persentase dependency ratio yang semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi.
Mengamati gambar diatas, Dependency Ratio di Indonesia diprediksi memiliki nilai paling rendah 46,9 pada tahun 2030. Setelah tahun 2030 beban ketergantungan penduduk usia tua akan meningkat sehingga beban ketergantungan total akan naik kembali. Diperkirakan bonus yang dapat disumbangkan oleh penduduk usia kerja akan menjadi makin kecil karena harus menanggung beban ketergantungan penduduk usia tua yang jumlahnya akan makin membengkak.
Jati (2015: 5) menyatakan Bonus demografi harus dioptimalkan semaksimal mungkin demi pertumbuhan ekonomi melalui investasi sumber daya manusia yang modern. Ledakan penduduk usia kerja ini akan memberikan keuntungan ekonomi apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut. 1) Penawaran tenaga kerja (labor supply) yang besar meningkatkan pendapatan per kapita jika mendapat kesempatan kerja yang produktif. 2). Adanya peranan perempuan, yaitu jumlah anak sedikit memungkinkan perempuan memasuki pasar kerja dan membantu peningkatan pendapatan. 3). Adanya tabungan (savings) masyarakat yang diinvestasikan secara produktif. 4). Modal manusia (human capital) yang berkualitas jika ada investasi untuk itu.
Bagi penulis, hal paling utama untuk mengoptimalkan bonus demografi yaitu dengan mempersiapkan penduduk usia kerja melalui human Capital yang berkualitas. Human capital Ini diperoleh kita peroleh melalui pendidikan dan pengalaman. Teori human capital memposisikan manusia sebagai modal layaknya mesin sehingga seolah-olah manusia sama dengan mesin. Namun setelah teori ini semakin meluas, maka human capital justru bisa membantu pengambil keputusan di negara-negara yang masih berkembang untuk memfokuskan pembangunan manusia yaitu menitikberatkan pada investasi pendidikan.
Setelah kita tahu pentingnya peningkatan human capital, Lalu bagaimana cara kita meningkatkan human capital dalam diri kita? Fachri (2010) menyatakan bahwa hal yang pertama dapat kita lakukan untuk meningkatkan human Capital adalah dengan meningkatkan kemampuan (skills) kita dalam pekerjaan yang sedang kita geluti, tidak semata hard skills saja yang kita perdalam termasuk yang harus kita benahi  juga kemampuan soft skills kita. Alasannya karena dunia kerja percaya bahwa sumber daya manusia yang unggul adalah mereka yang tidak hanya memiliki kemahiran hard skill saja tetapi juga piawai dalam aspek soft skill nya. Dunia pendidikan pun mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill.
Upaya lain yang harus kita tingkatkan dalam pengembangan human capital ialah fokus kepada pendidikan. Kita harus berupaya meningkatkan tingkat pendidikan kita. Karena dalam teori human capital, individu yang menjalani pendidikan yang tinggi tentu akan memberikan tingkat pengembalian sosial yang tinggi. Pendidikan disini tentu tidak harus dengan pendidikan formal saja tetapi pendidikan nonoformal pun akan mempunyai efek positif bagi peningkatan human capital kita.
Selanjutnya upaya lain peningkatan human capital kita peroleh melalui pengalaman. Belajar dari pengalaman tentu merupakan mentor terbaik bagi peningkatan human capital, karena dengan pengalaman mengajarkan secara langsung kepada kita permasalahan-permasalahan hidup yang harus kita hadapi.
Peningkatan human Capital merupakan hal pertama yang harus dilakukan untuk memanfaatkan dampak positif dari bonus demografi tahun 2030. Peningkatan human capital pada usia produktif secara bersama-sama berdampak pada meningkatnya tenaga kerja yang berkualitas yang bisa dicapai melalui pendidikan dan pengalaman yang mereka miliki. Tenaga kerja dengan kualitas yang baik dibarengi dengan peningkatan jumlah lapangan kerja dalam akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan produktifitas kerja. Pada akhirnya kita optimis bahwa kondisi ini dalam jangka panjang akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Sumber bacaan dan referensi:
Arikunto, Indra. 2015. Bonus Demografi harus dikelola dengan tepat agar tidak jadi bencana. http://www.tribunnews.com/nasional/2015/08/01/bonus-demografi-harus-dikelola-dengan-tepat-agar-tidak-jadi-bencana. Diakses tanggal 9 Februari 2016 pukul 11.10
Fachri, Syaeful. 2010. Bagaimana cara meningkatkan human Capital?. http://saeful-fachri.blogspot.co.id/2010/11/bagaimana-cara-meningkatkan-human.html. Diakses tanggal 10 Februari 2016 pukul 19.10
Jati, Wasisto Raharjo. 2015. Bonus Demografi Sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi: Jendela Peluang Atau Jendela Bencana Di Indonesia?. Jurnal: Populasi, Volume 23 Nomor 1 2015.
Rosana, Dolly. 2015. BKKBN: Bonus Demografi diraih Indonesia 2025–2030. http://www.antarasumsel.com/berita/297301/bkkbn-bonus-demografi-diraih-indonesia-2025-2030. Diakses tanggal 9 Februari 2016 pukul 10.21


Posted By Ragil Waseza03.31

Sabtu, 29 Juni 2013

Motivasi Pernikahan

Filled under:



Pernikahan itu sesuatu yang sakral, Pernikahan butuh yang namanya cinta, dan banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengungkapkan rasa cinta, salah satu nya dengan memberikan beberapa untaian dan ucapan kata - kata mutiara islami pernikahan ini, dan semoga bisa menambah keromantisan dalam hubungan perkawinan anda.

Ketika seorang istri menceritakan seluruh masalahnya kepadamu, ketahuilah bahwa itu bukan keluhan yang akan menyusahkanmu dan membuatmu pusing akan setiap masalah yang menimpa. Melainkan ia melakukan hal tersebut karena ia mempercayaimu sebagai seorang suami yang mampu menjadi sandaran dalam hidupnya, tempat ketika ia harus meneteskan air mata yang mana engkau akan mengusap air mata tersebut menjadi sebuha senyuman.

Menikahlah ketika engkau muda, dan perbanyaklah keturunan -yang berkualitas- ketika engkau muda pula. Agar ketika datang masa tuamu, putra/putrimu sudah cukup kuat untuk menegakkan punggungnya sendiri, maupun punggung kedua orang tuanya.

Menikah itu lebih baik dari pada sendirian apapun alasannya, karena dengan menikah seseorang bisa belajar bertanggung jawab ketimbang sendirian dengan memaksakan alasan segala macam untuk menunda-nunda pernikahan.

Perlakukan keluargamu seperti memasak ikan kecil – dengan penuh kelembutan dan kehati-hatian. (Chinese Proverb).

Kadang-kadang adalah penting untuk suami istri bertengkar – mereka saling mengenal satu sama lain lebih dalam. (Goethe).

Bukalah matamu lebar-lebar sebelum pernikahan, dan setengah tertutup sesudahnya (Benjamin Franklin)

Satu keuntungan dari perkawinan adalah bahwa, ketika Anda berhenti mencintai dia, atau dia berhenti mencintai Anda, pernikahan membuat Anda bersama-sama sampai Anda saling jatuh cinta lagi. (Judith Viorst).

Suami dan Istri melihat kedalam cermin. Istri berkata: apa yang kau lihat? Suami menjawab… Sisa Hidup Saya (Rev Run).

Perkawinan itu ibarat istana untuk yang masih berada di luar: ingin cepat-cepat masuk, tetapi ibarat neraka untuk yang berada di dalam: ingin cepat-cepat keluar.

Semoga Allah memberi berkah kepadamu dan atasmu serta mengumpulkan kamu berdua (pengantin laki-laki dan perempuan) dalam kebaikan.

Rahasia menjadi pasangan suami istri yang bahagia sesungguhnya tidak pernah dapat diajarkan, tetapi belajar dari pengalaman.

Orang harus selalu mencintai. Itulah alasan seseorang sebaiknya tidak pernah kawin. ~ Father Robert Capon.

Semua perkawinan itu menyenangkan. Namun hidup bersama sesudahnya-lah yang menyebabkan segala masalah. ~ Raymond Hull.

Istri adalah kekasih gelap lelaki waktu masih muda, teman lelaki waktu berusia separuh baya, dan perawat lelaki waktu sudah tua. ~ Francis Bacon.

Untuk sukses perkawinan dibutuhkan dua orang, dan untuk kegagalan perkawinan hanya diperlukan satu orang. ~ Herbert Samuel.

Perkawinan yang umumnya sangat terjalin dengan cinta dan kesetiaan adalah yang didahului masa perkenalan (pacaran) yang panjang. ~ Joseph Addison.

Ya Allah, Andai semua itu tak layak bagi kami, Maka cukupkanlah permohonan kami dengan ridlo-Mu Jadikanlah kami Suami & Istri yang saling mencintai di kala dekat, Saling menjaga kehormatan dikala jauh, Saling menghibur dikala duka, Saling mengingatkan dikala bahagia, Saling mendoakan dalam kebaikan dan ketaqwaan, Serta saling menyempurnakan dalam peribadatan.

Sekian dulu Kata Mutiara Islami Perkawinan. semoga bermanfaat


Sumber : http://unosites.blogspot.com/2013/01/17-kata-mutiara-islami-perkawinan.html

Posted By Ragil Waseza01.18

Jangan Buru-Buru Menikah

Filled under:



Tidak dipungkiri lagi pada jaman sekarang ini para remaja sudah tidak malu lagi untuk menunjukkan rasa sayangnya kepada lawan jenis, buktinya adalah adanya trend pacaran di masa ini. Dan pada akhirnya mereka darah muda ingin merealisasikan hubungannya yaitu dengan pernikahan. Alasan para remaja ini menikah sebenarnya sangat tidak bisa dipertanggungjawabkan yaitu seperti takut kehilangan pasangannya atau sudah terlanjur sayang.
Menikah itu tidak salah, menikah adalah wajib bagi umat muslim. Tetapi waktunya untuk menikah itu yang perlu untuk dipertimbangkan. Coba saja bayangkan jika anda menikah di usia muda, banyak kesulitan yang akan anda dan pasangan anda rasakan contohnya:
  1. Tidak siap dalam hal pemenuhan kebutuhan pokok, ini terjadi karena pada umur sekian laki-laki jelas belum mampu memenuhi kebutuhan pokok keluarganya karena belum mendapatkan penghasilan tetap atau bahkan belum mendapatkan pekerjaan.
  2. Secara psikologis menikah muda itu menyebabkan seseorang dipaksa untuk dewasa. Bayangkan jika ini terjadi, jika remaja dipaksa menjadi dewasa maka mentalnya pun tidak akan kuat untuk menghadapi permasalahan yang memang seharusnya dihadapi oleh orang dewasa. Masalah mental ini akan membuat sebuah keluarga muda itu hancur dengan sendirinya dengan ketidakmampuan mereka untuk menghadapinya, yang menjadikan mereka melakukan pertengkaran yang semestinya tidak perlu terjadi.
  3. Secara biologis menikah muda itu memang kurang bagi pasangan itu karena organ-organ reproduksi belum berkembang dengan sempurna. Apalagi bagi anak yang lahir dari pernikahan muda itu sangat tidak baik yaitu memungkinkan anak itu lahir cacat, entah cacat tubuh atau cacat mental karena memang orang tua nya sebenarnya belum siap untuk memiliki anak secara mental. Bahkan bagi perempuan yang melahirkan di usia muda ini bisa menyebabkan kematian.

Sebenarnya mungkin masih banyak kerugian dari menikah muda daripada keuntungannya. Disini saya hanya ingin mengarahkan logika anda sekalian bahwa janganlah buru-buru menikah muda karena itu tidaklah baik dalam jangka panjang tentunya.
Sekian, semoga bermanfaat.

Created By: Ragil Waseza

Posted By Ragil Waseza00.55

Lonjakan Jumlah Penduduk Itu Berdampak Buruk

Filled under:

Jumlah penduduk Indonesia berada di urutan ke empat terbesar di dunia setelah berturut-turut China, India, Amerika Serikat dan keempat adalah Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia dari hasil Sensus 2010 mencapai angka 237.641.326 (www.bps.go.id). Dari tahun ke tahun jumlah penduduk Indonesia semakin bertambah. Dari sensus tahun 1971-2010, jumlah penduduk Indonesia semakin bertambah.
 
Akan tetapi permasalahan kependudukan terkait dengan jumlah penduduk yang besar menjadi sebuah masalah yang tidak dapat dihindarkan. Indonesia memiliki berbagai potensi terjadinya konflik. Benturan antara berbagai kepentingan dengan berbagai organisasi masa lainnya membuat masalah besarnya populasi menjadi hambatan. Selain itu yang terpenting terkait dengan permasalahan penyediaan sumber daya alam dan berbagai kebutuhan penting lainnya. Adanya tekanan penduduk terhadap daya dukung lingkungan menjadi masalah yang sangat rumit. Kepentingan untuk membangun tempat tinggal dan ruang gerak sangatlah penting namun di sisi lain terdapat kepentingan yang terkait dengan permasalahan lingkungan seperti halnya sebagai daerah aliran sungai, daerah resapan air, pertanian, penyediaan sumber daya alam, dll. Kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan dan keduanya perlu mendapatkan perhatian yang sama demi keseimbangan alam. 
( http: hamimincore.blogdetik.com)

Selain itu, masalah yang muncul terkait dengan jumlah penduduk yang besar adalah dalam penyedian lapangan pekerjaan. Kebutuhan akan bahan pokok menuntut orang untuk berkerja dan mencari nafkah. Namun, penyedia lapangan kerja sangatlah minim karena penduduk lebih senang untuk menggantungkan diri terhadap pekerjaan dan cenderung mencari pekerjaan daripada membuka lapangan pekerjaan. Hal ini menyebabkan masalah baru yaitu pengangguran. Apabila jumlah pengangguran ini tinggi, maka rasio ketergantungan tinggi sehingga negara memiliki tanggungan yang besar untuk penduduknya yang dapat menghambat pembangunan dan menyebabkan tingkat kemiskinan menjadi tinggi.

Posted By Ragil Waseza00.13

Jumat, 28 Juni 2013

Peringatan Hari Keluarga Nasional ke-20

Filled under:


KBRN, Jakarta: Acara puncak pada peringatan Hari Keluarga XX Tingkat Nasional Tahun 2013, digelar di Kendari, Sulawesi Tenggara, pada Sabtu (29/6/2013). Acara puncak dihadiri oleh 11 ribu orang, 5 ribu orang diantaranya dari Sulawesi Tenggara. Acara ini juga akan dihadiri oleh Wakil Presiden Boediono.
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Fasli Jalal, yang juga merupakan Panita Penyelenggara Hari Keluarga XX Tingkat Nasional mengatakan peringatan Hari Keluarga XX merupakan momen bagi keluarga Indonesia untuk introspeksi, apakah sudah menjalankan fungsi keluarga atau sebaliknya.
“Keluarga bisa melakukan refleksi di keluarga masing-masing, dengan cara masing-masing. Apakah mereka sudah menjalankan fungsi keluarga,” kata Fasli Jalal, dalam dialog bersama Pro 3 RRI, Sabtu (29/6/2013).
Di Indonesia jumlah keluarga ada 64 juta. Fungsi tersebut meliputi ritual ibadah apakah sudah semakin membaik, kemudian rasa cinta, peran sosial, kepedulian kepada lingkungan.
“Apakah ritual keagamaan mereka semakin baik, apakah rasa cinta kasih masih terpelihara kalau bisa meningkat, peran sosial. Kekerasan didalam rumah tangga harus dihilangkan, pendidikan dan kesejahteraan ditingkatkan”.
Peringatan Hari Keluarga XX juga diisi dengan kegiatan sosial seperti khitanan massal, operasi mata katarak, bakti sosial untuk masyarakat sekitar, pesta kuliner, pameran hasil kerajinan tangan.
Pada perjalanannya, peringatan Hari Keluarga XX sudah berlangsung sejak 1993, dan kerap dihadiri oleh kepala negara. Peringatan Hari Keluarga merupakan apresiasi pemerintah terhadap keluarga Indonesia dan dorongan untuk membentuk keluarga yang tangguh, karena hanya dari keluarga tangguh, yang dapat membangun bangsa.
Dan pemerintah pun berkomitmen untuk mendorong, memfasilitasi, membantu untuk menciptakan keluarga yang tangguh. “Kita berharap 64 juta keluarga punya waktu untuk mendiskusikan. Apa yang belum baik maka diperbaiki secara mandiri,” ujarnya. (Sgd/YY)


Sumber : http://rri.co.id/index.php/berita/59074/Peringatan-Hari-Keluarga-Ke-20-Momen-Refleksi#.Uc5iC_ml4WA

Posted By Ragil Waseza22.08
Diberdayakan oleh Blogger.